nb : Sebelum para pembaca melihat dan menikmati tulisan di bawah ini, penulis menganjurkan untuk meng-klik tombol "play" di atas agar feel-nya lebih terasa :p
Dan memulai membaca ketika lagu sudah mulai diputar...
Sebuah artikel di majalah National Geographic beberapa tahun yang lalu menampilkan sebuah kejadian yang sangat menyentuh hati. Setelah kebakaran besar yang melanda Taman Nasional Yellowstone, para penjaga hutan naik ke gunung untuk memperkirakan kerusakan akibat bencana tersebut. Seorang penjaga hutan menemukan seekor burung yang telah mati hangus, bertengger kaku di atas tanah di bawah sebuah pohon.Kisah yang sangat menyentuh hati kita sebagai manusia biasa yang penuh dengan kelemahan dan kegalauan. Kisah yang benar-benar memberikan pelajaran yang sangat berharga mengenai sosok seorang wanita mulia bernama ibu. Burung di atas menjadi sebuah simbol akan keberadaan seorang ibu yang rela mati demi anak-anaknya, ibu yang rela berkorban apapun demi anak-anaknya, ibu yang selalu memberi cinta dan kasih yang tiada henti bagi kehidupan anak-anaknya...
Walaupun merasa ngeri melihat pemandangan itu, penjaga hutan ini memukul-mukul pelan bangkai burung ini dengan sebuah tongkat. Ketika ia memukulnya, tiga ekor anak burung kecil muncul dari balik sayap ibunya yang sudah mati. Ibu yang penuh kasih sayang ini, telah membawa anak-anaknya ke bawah pohon dan mengumpulkannya di bawah kedua sayapnya, karena secara insting ia tahu bahwa asap racun akan naik ke atas. Ia bisa saja terbang ke suatu tempat yang aman tetapi ia menolak meninggalkan anak-anaknya yang belum mampu untuk terbang seperti dirinya. Ketika api datang dan panas membakar tubuh kecilnya, si ibu tetap tabah. Karena ia rela mati agar anak-anak yang ada di bawah sayapnya bisa tetap hidup.
sumber : Koin Emas di Tepi Jalan, Mario Seto
Ibu bagaikan malaikat yang diutus Tuhan untuk mendampingi kita, bagaikan sang surya yang menyinari dunia, bagaikan sang bulan yang selalu mendampingi gelapnya malam...
Ibu pelita hati, tanpa dia kita takkan bisa menghirup harumnya dunia, takkan pernah merasakan indahnya dunia.
9 bulan dia mengandung, 9 bulan dia menahan sakit, hanya demi mendengar tangisan pertama kita di dunia yang fana ini...
